Putri Koster Ajak Pelaku IKM "BPD"

Ny. Putri Koster menjadi keynote speaker webinar Dekranasda Bali

Redaksi9.com - Sebelum pandemi covid, Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali, telah menyusun banyak program. Tahun 2020, banyak mengagendakan pameran dan talkshow lewat media.

Namun, covid-19, telah menghadang membuat kita tidak boleh berkumpul atau berkerumun. Kondisi pandemic Covid-19 telah mengakibatkan perputaran ekonomi menurun, termasuk berdampak pada UMKM dan IKM.

Demikian dipaparkan Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali, Ny. Putri Suastini Koster, dalam webinar dengan tema, Digitalisasi Pasar IKM dalam Tatanan Kehidupan Bali Era Baru, kerja sama Dekranasda Provinsi Bali, BPD Bali, dan Bali Mal, Senin (27/7).

Putri Koster mengatakan, Dekranasda memiliki tanggungjawab melestarikan dan mengembangkan produk kerajinan lokal Bali, termasuk di dalamnya, mendukung kreativitas perajin dan inovasi.

“Berkreativitas jangan sampai menghilangkan keaslian. Misalnya, kain tenun tradisional Bali songket. Tidak bisa diproduksi masal karena ini limited edition. Jangan sampai karena ingin membuat seragam, perajin kewalahan akhirnya mencari bantuan kain ke luar. Disinilah perlu pemahaman lebih bijaksana tentang produk local khas Bali,” katanya.

 

 

Ia menegaskan, ada satu tagline yang digalakkan Dekranasda Bali, cintailah produksi dalam negeri dan pakailah produk daerah sendiri.

“Orang Bali memakai kain khas Bali, begitu juga orang Jawa memakai kain khas Jawa. Kalau orang Bali ingin memakai kain khas Jawa, belilah yang asli di Jawa, sehingga kondisi ini saling mendukung dan tidak mematikan tapi justru menumbuhkan satu sama lain. Itu satu contoh kecil,” kata Putri Koster.

 

Baca juga: Pemasaran lewat Online lebih Efektif

Menurutnya, di saat pandemi, kita tidak boleh berkerumun, kita tidak tahu sampai kapan virus ini berakhir. “Jika diibaratkan pesawat, jangan bengong diam di landasan, kita akan kehilangan kesempatan untuk terbang. Waktunya, kita melirik pasar digital,” imbuhnya.

Ia menilai, sebelum merembak kasus covid, sudah banyak market place yang dimanfaatkan. Karena situasi belum memaksa, pelaku usaha belum melirik digital.
“Sekarang ini, mau tidak mau kita harus melirik pasar digital. Kalau tidak, kita akan ketinggalan. UMKM akan mati suri dan hilang. Ketika kita ingin menjadi motor pergerakan perekonomian, kita harus mengikuti perkembangan zaman. Saat ini era digital, waktunya pelaku usaha beralih ke transaksi online,” kata seniman multitalenta ini.

Ia menegaskan, Dekranasda Bali mencoba menggerakkan, dari hulu sampai hilir, itulah yang diharapkan dalam Bali Era Baru, untuk mencapai visi dan misi pemerintah Provinsi Bali Nangun Sat Kerthi Loka Bali.


“Di era pandemi kita tidak diam, tugas kita turut melestarikan warisan nenek moyang. Dari hasil webinar ini kami ingin meningkatkan dan mengangkat kualitas dan kapasitas UMKM dan IKM. Bergerak dari Bali, tapi gaungnya sampai ke nasional bahkan internasional,” tegas Putri Koster.

Baca juga: Putri Koster Ajak IKM Bali Gunakan Platform Digital untuk Pemasaran


Ia mengajak, mari ke depannya agar produk tetap lestari, namun, prinsip ekonomi tetap berjalan harmonis.

Sementara, Dr. Ir. Ni Wayan Sri Ariyani, MM, Owner Bali Mall mengatakan, kondisi pandemi yang mengharuskan kita diam di rumah saja, sehingga harus ada aplikasi yang menjembati. Namun, masyarakat masih takut bertransaksi, karena tidak ada ketidakpercayaan belanja online.

“Kita harus berani berubah menuju pasar virtual atau market place. Bali Mall hadir untuk menjawab tantangan ini. Bali Mall dibuat orang Bali dan untuk orang Bali,” ujarnya.

Ia mengatakan, sangat mendukung UMKM dan IKM berjualan secara online, termasuk mendorong masyarakat berbelanja online. Dari pihak Bank pun harus memberi jaminan agar transaksi online aman dan nyaman.

Menurutnya, masih banyak orang tidak percaya dengan online, namun, transaksi di Bali Mall, transaksi aman dan nyaman dan memiliki keunggulan. Salah satu, memprioritaskan produk local Bali, seperti kain Bali, furniture Bali, makanan dan minuman Bali. Merchant pun telah diverifikasi, sehingga menumbuhkan rasa percaya bahwa belanja di Bali Mall sangat aman.

“Para menchant yang ingin mendaftar di Bali Mall juga tidak dikenakan biaya, itulah sumbangsih kami sebagai pengusaha Bali. Bali Mall juga memiliki call enter dan help desk yang membantu para merchant untuk memberikan informasi jika ada masalah. Selain itu, ada bantuan aplikasi pembukuan gratis dalam setahun,” katanya.

Ia mengatakan, selama ini, untuk anggota Dekranasda kebanyakan menjemput bola. Bali Mall siap memberi pendampingan kepada anggota Dekranasda Bali.

Bali Mall juga sudah masuk ke pasar pemerintah, apalagi, setelah covid, banyak kebijakan mengangkat UMKM. Ia mengajak, peserta UMKM bersatu agar bisa bangkit dari keterpurukan dengan sistem digitalisasi.

Web Bali Mall juga sudah memiliki produk khas masing-masing kabupaten /kota se-Bali. Misalnya, jika ingin melihat produk khas Denpasar, silakan diklik Denpasar. Begitu juga produk khas Jembrana, silakan diklik di Jembrana.

Sementara, Direktur Operasional BPD Bali, Ida Bagus Gede Setia Yasa mengatakan, digitalisasi adalah era industry 4.0. Daya saing adalah salah satu kata kunci.

Ia mengatakan, ada sekitar 15 ribu IKM menjadi partner strategis BPD Bali. Ada 33 ribu UMKM juga sudah menjadi nasabah BPD Bali.


“BPD Bali telah memperkuat sector UMKM berbasis integrasi. Factor penguatan UMKM dalam sector produksi, suplay dan demand disatukan dalam market place. Pandemi ini peluang mempercepat pergerakan digitalisasi,” kata Setia Yasa.

Ia melihat, isu UMKM saat ini adalah masalah permodalan, akses keuangan perbankan, sector produksi dari SDM. BPD Bali akan bersinergi dalam transaksi digitalisasi.
Ia melihat, e-commerce Bali Mall, salah satu hal strategis untuk meningkatkan proses akses pasar ke pembeli. Internet adalah satu satu kunci. Dari jumlah penduduk Indonesia, ada sekitar 350 juta perangkat ponsel dengan smartphone dan android yang digunakan.

Menurutnya, tantangan digitalisasi, adalah kepercayaan dalam melakukan transaksi dalam pasar digital.
“Dari sisi pemasaran sangat luas. Walau pun kita di Bali, pasar dari luar Bali sampai internasional. Jadi, yang harus dibangun adalah keamanan bertransaksi,” kata Setia Yasa.

Ia menegaskan, digitalisasi melalui market place sudah termasuk menerapkan protokol kesehatan. “Digitalisasi menjawab tantangan industri 4.0 meningkaatkan daya saing. UMKM Bali bisa punya daya saing tinggi dan pasar yang loyal,” katanya.


Ia menyebutkan, peran BPD Bali dari sisi permodalan dan pemasaran. Untuk permodalan, ada produk kredit stimulus penguatan modal kerja subsidi bunga, dan juga penjaminan.


“Dari sesi pemasaran kita akan melakukan pameran bersama. Tiap tahun pameran bersama dilakukan bersama pemda se- Bali. Saat ini ada sekitar 33 ribu nasabah UMKM, dan sekitar Rp 8 triliun kredit disalurkan BPD Bali,” kata Setia Yasa.

Sesuai surat edaran Gubernur, semua transaksi diusahakan nontunai. Ada 38 alat pembayaran digital yang dapat digunakan di BPD Bali.


Sementara, Ketua Harian Dekranasda Bali, I Wayan Jarta mengatakan, sesuai Surat Edaran Gubernur Nomor 1536 Tahun 2020, bahwa mulai tanggal 7 Agustus akan dilaksanakan Program Pasar Gotong Royong Krama Bali. Kewajiban ASN Pemprov Bali, dan diimbau kepada ASN kabupaten/kota di Bali untuk berbelanja di pasar krama gotong royong yang digelar tiap Jumat awal bulan.

“Surat edaran ini memberi peluang pasar bagi perajin UMKM, IKM, dan petani di seluruh Bali. Kalau ini bisa disenergikan dengan Bali Mal tentu sangat baik. E-katalog bisa disampaikan ke OPD Provinsi Bali, untuk mengetahui kebutuhan dari para ASN. Pesanan ini akan dibawa Hari Jumat saat digelar pasar gotong royong,” katanya.


Menurutnya, pasar online dan offline sangat bagus dikembangkan bersama-sama. Pembayaran pun diupayakan nontunai, sehingga Qris dapat menjadi pilihan. Ia berharap, semoga kebijakan gubernur Bali ini, benar-benar dapat membantu UMKM dan IKM Bali.

Di akhir acara webinar yang diikuti dekranasda kabupaten/kota se-Bali ini,  Putri Suastini Koster mengajak peserta bersama-sama, untuk BPD.

B, berani memulai untuk sesuatu yang lebih baik, mengubah kebiasaan tatanan menuju Bali Era Baru.

P, percaya diri, kepercayaan masyarakat atau konsumen menjadi garis tebal yang harus dilakukan IKM dan UMKM. Di era digital, kepercayaan menjadi hal penting yang dilandasi kejujuran dalam berbisnis. UMKM dan IKM harus meningkatkan kualitas dan kinerja.

D, daya saing. Tidak cukup hanya semangat saja, tapi UMKM dan IKM harus memiliki daya saing. Ini yang akan didorong oleh BPD Bali.

Ia juga mengajak para UMKM dan IKM, Bali Mal.

Ba, bangkit, jangan berpangku tangan, harus berpeluh, seperti pesawat ingin terbang tinggi.

Li, lihat peluang. Mari bersinergi dari Bank, UMKM, plaform digital, semua duduk bersama untuk melihat peluang.
Produk Bali yang berkualitas harus menguasai pasar Bali. Setelah itu, baru menyasar pasar di luar Bali. Jadilah tuan rumah di rumah sendiri.

Mal, malang melintang, akan menjadikan jiwa entrepreneur kita terasah.

Ia mengatakan, webinar ini akan terus berlanjut. “Mari kita bersinergi dan berkolaborasi agar kita tetap survive. Yuk tinggal landas jangan tinggal di landasan,” tegasnya. (ira).






TAGS :

Komentar