Gering Agung Corona, Lukisan “Maut” Agus Mertayasa

Dukungan Ny. Putri Koster dalam pameran virtual lukisan Agus Mertayasa

Redaksi9.com -Satu gebrakan dilakukan Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda)  Provinsi Bali, Ny. Putri Suastini Koster, Rabu (5/8). Ia menggagas pameran lukisan secara virtual dari seniman lukis berbakat,  Agus Mertayasa asal Buduk, Badung.

Istri Gubernur Bali Wayan Koster ini menuturkan, pertamakali bertemu dengan Agus Mertayasa, dalam kegiatan Pesta Kesenian Bali di Taman Budaya Denpasar. Entah mengapa, ia merasa sangat dekat dengan pelukis berbakat usia 22 tahun tersebut, dan berjanji akan membantunya membuat pameran lukisan. Namun, karena kondisi Covid-19, hal itu tidak bisa diwujudkan.


Putri Koster mencoba berdiskusi dengan para pengurus Dekranasda Provinsi Bali dan Kepala Disperindag Provinsi Bali, Wayan Jarta yang juga kebetulan Ketua Harian Dekranasda Provinsi Bali. Tercetuslah ide untuk pameran lukisan secara virtual.  Ada 45 lukisan Agus Mertayasa yang dipamerkan secara virtual. Putri Koster mengaku surprise,  karena dari 45 lukisan tersebut,  habis terjual.


Ia mengucapkan terimakasih kepada Pemerintah Provinsi Bali, pihak swasta, Bank Pemerintah dan swasta, dan donatur yang telah berpartisipasi untuk membantu kesuksesan acara pameran virtual tersebut.

“Saya berharap, ke depan ini dapat menjadi contoh, kepada siapapun yang perduli kepada anak yang bertalenta, pameran virtual sangat efektif dan efisien, tanpa melanggar protokol Kesehatan. Saat ini, kita kembali beraktivitas normal, namun, protocol kesehatan harus tetap dilakukan. Pameran virtual ini sangat tepat dilakukan," katanya.

Putri Koster melihat, dengan bahan sederhana,  Agus mampu menuangkan ide dengan hati yang tulus. Dengan keterbatasan tapi  Agus sangat tekun menjalankan kreativitasnya.


Ia melihat, Agus mampu memimpin dirinya sendiri, dan mengusahakan “sesuatu”  agar orang lain dapat  melihat kelebihan yang dimiliki.   

“Saya bangga dengan anak Bali bertalenta. Yuk, bersama-sama kita memberi kasih sayang kepada mereka. Caranya, mereka harus diberi kail bukan ikan, agar mereka bisa menyalurkan kreativitasnya agar menjadi mandiri,” kata Putri Koster.  Ia juga berharap, Agus  tetap disiplin, dan rendah hati.

Salah satu lukisan Agus yang identik dengan kondisi saat ini, yakni Agung Gering Corona. Lukisan ini mengambarkan, kondisi pandemic yang terjadi, dengan banyaknya  rangda yang menghancurkan manusia.


Saat melukis ini, Agus menuturkan, sembari berdoa agar pandemic Covid-19  segera musnah dan kehidupan manusia kembali normal.

Kadis Kebudayaan Provinsi Bali, Prof. Kun Adnyana, menilai, lukisan Gering Agung Corona ini menceritakan, bahwa sesungguhnya pandemic Covid-19 sudah digariskan literasi kuno agar kita dapat mawas diri.

 “Lukisan ini memberikan makna bagaimana kita dapat  memahami maut secara berempati.  Lukisan ini akan saya koleksi,” imbuhnya.

Prof Kun Adnyana menilai, pameran virtual ide Ny. Putri Koster ini merupakan  inisiatif yang baik dalam memasuki kemanusiaan yang universal.


Ia menilai, bakat Agus sangat luar biasa hanya dalam waktu tiga tahun mampu menghasilkan lukisan yang luar biasa.

“Agus memulai berkarya dari tahun 2017 kemudian dibimbing Yayasan Bunga Bali,  bakat Agus sangat luar biasa. Tidak mudah  memiliki bakat yang luar biasa dalam tiga tahun dan menghasilkan karya seni dengan garis yang lentur  dan energi yang kuat, apalagi pilihan tematiknya tidak mudah,” katanya.

Prof Kun menilai, melihat dari energi garis, seperti bahasa batinnya Agus. Kemampuan jangkauan tangannya tidak mudah lepas, sangat luas sebagaimana yang tidak bisa dilakukan  tangan orang normal.

“Dalam setiap tarikan napas, ada tarikan garis. Kesempurnaan berfokus. Kalau pelukis biasa, ia akan selalu gelisah, tak mudah  diam, sementara Agus mampu focus untuk menorehkan suasana batinnya untuk disampaikan,” kata Kun Adnyana.

Tema yang dipilih juga sangat beda,  ada Awatara, Durga, Dewa, Rangda dll. Kun menilai, hanya orang yang memiliki intuisi,  berani berhadapan dengan tema-tema ini. Banyak pelukis justru menghindari tema yang angker. Namun, Agus memilih berani menampilkan itu.

“Ada upaya doa di sana karena kehidupan itu sebenarnya maut,” kata Prof. Kun.

Ia menilai ada tiga yang dapat dilihat dari Agus. Pertama, Agus Mertayasa mampu focus. Kedua, masuk ke dalam tema maut membuat kita sadar, agar mawas diri.  Ketiga, mengoleksi karya Agus adalah  sebuah perjuangan kemanusiaan.

Kun mengatakan,  kegiatan ini tidak berhenti sampai di sini. Ia mengajak  kepada semua pencinta seni dan para donatur untuk bergabung dalam “Sahabat Agus”, agar Agus tetap dapat berkarya.

Usai acara pameran, Ny. Putri Koster mengatakan, habis kata-kata. Dengan nada haru dan mata berkaca-kaca, ia berkata, karena kalau kita mau dan fokus, kita bisa karena anak ini sesungguhnya luar biasa.

Ia mengucapkan terimakasih kepada Gubernur Bali Wayan Koster yang telah memberi ruang memfasilitasi acara tersebut.

"Anggap saja ini satu hiburan untuk kembali kepada hati nurrani. Saat kembali dengan acara seperti ini, saya tetap harapkan keperdulian kepada para dermawan untuk berpartisipasi. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih kepada para donatur baik OPD Pemprov Bali, BRI,BPD Bali, dan BNI," ujar seniman multi talenta ini.

Karena semua lukisan sudah sold out, Putri Koster mengatakan, cukup puas, karena sudah mengoleksi lukisannya bersama Bapak Gubernur, Ratu Niang Sakti, dan Ida Ratu Dukuh Sakti. Menurutnya, itu koleksi yang luar biasa.

Putri Koster juga meminta kepada orangtua Agus, agar Agus dirawat dengan baik karena agus adalah SDM Bali yang punya talenta luar biasa. (ira).

 


TAGS :

Komentar