PHDI dan MDA keluarkan Edaran Pembatasan Kegiatan Upacara Yadnya dan Keramaian di Bali

Ketua MDA Provinsi Bali Ida Penglisir Sukahet menyampaikan Surat Edaran Pembatasan Kegiatan Upacara Yadnya dan Keramaian di Bali

Redaksi9.com - Mengacu pada data penyebaran COVID-19 di sejumlah daerah, termasuk di Bali, kembali meningkat dengan tingkat kesembuhan yang melambat, dan klaster kemunculan kasus COVID-19 banyak bersumber dari interaksi masyarakaČ›, maka Parisadha Hindu Dharma Provinsi Bali dan Majelis Desa Adat Provinsi Bali mengeluarkan surat edaran Nomor 081/PHDI-Bali/IX/2020 dan Nomor: 007/SE/MDA-Provinsi  Bali/IX/2020 tentang Pembatasan  Kegiatan Upacara Panca Yadnya dan  Keramaian  di Bali dalam situasi Gering Agung. 


Dalam surat edaran disebutkan, Semua Upacara Panca Yadnya yang bersifat nguwangun (direncanakan), seperti karya malaspas, ngenteg linggih, ngaben, ngaben massal, mumukur, muligya, Yadnya (Padiksaan), mapandes, serta kurya ngawungun yang lainnya, seperti "mamukur, nyegara gunung, dan lain-lain, supaya ditunda sampai Pandemi Covid-19 dinyatakan mereda.

Upacara Panca Yadnya juga dapat dilaksanakan dengan melibatkan peserta yang sangat terbatas.

 Dalam setiap pelaksanaan upacara Panca Yadnya, mengikuti protokol kesehatan penccgahan dan penanggulangan Pandemi COVID-19, seperti, wajib menggunakan maskcr secara benar, menjaga jarak antar orang paling sedikit 1,5 (satu koma lima) meter.

Selain itu, menyediakan tempat mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau cairan pembersih tangan (hand sanitizer).  Mengutamakan Perilaku Hidup Bersih dan Sebat (PHBS); dan melarang hadir bagi setiap orang yang menunjukkan gejala klinis, seperti: demam, batuk, pilek, radang tenggorokan, dan sesak napas


Pujawali/Piodalan di Pura Kahyangan Jagat, Pura Dang Kahyangan, Kahyangan Desa/Banjar Adat, dan Pura Lainnya, Pelaksana Upacara dilaksanakan sederhana. 

Pelaksanaan upacara diupayakan dapat dilaksanakan dengan ketentuan, maksimal 1 (satu) hari, terkecuali ada ketentuan lain yang mengharuskan lebih daripada 1 (satu) hari dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan secara ketat. 

Persembahyangan di pura dilakukan dengan mengatur jarak dan bergiliran sebanyak 25 persen dari daya tampung. Upacara tidak diringi gamelan atau tari wali.

Untuk upacara kematian Pitra Yadnya meninggal karena positif COVlD-19 dilakukan dengan kremasi langsung sesuai protokol kesehatan. Bagi yang meninggal bukan karena COVlD-19, supaya dilaksanakan upacara makingsan digni atau dikubur, kecuali Sulinggih dan Pamangku.  Upacara dilaksanakan dengan sederhana dan jumlah peserta yang sangat terbatas tidak ada undangan atau bentuk keramaian lainnya.

 Untuk upacara Manusa Yadnya dilakukan sederhana tanpa resepsi.

Setiap Desa Adat harus memastikan tidak adanya segala keramaian dan tajen di Wewidangan Desa Adat masing-masing. (ira)

TAGS :

Komentar