BI Resmikan Digitalisasi Pembayaran di Lingkungan Korem Wirasatya Bali

Peresmian digitalisasi pembayaran di Korem Wirasatya Bali

Redaksi9.com - Bali sebagai salah satu lumbung devisa dari sektor pariwisata Indonesia tentunya menjadi daerah yang paling terdampak akibat pembatasan sosial yang berdampak pada penurunan kegiatan pariwisata sejak Februari 2020, di mana pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi sebesar -10,98% (yoy) pada triwulan II 2020. Hal itu diungkapkan, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi bali,  Trisno Nugroho, dalam peluncuran Implementasi Digitalisasi Pembayaran yang Sehat di Masa Covid-19 – New Normal di Lingkungan Korem Wirastya Bali, Rabu (14/10). 

Trisno mengatakan, di tengah turunnya kinerja ekonomi, pergeseran interaksi antar manusia yang mengedepankan faktor cleanliness, health, safety, and environmental (CHSE) justru mempercepat integrasi ekonomi keuangan digital berpengaruh pada industri digital di Indonesia secara luas. 

Penelitian yang dilakukan Redseer baru-baru ini menunjukkan selama Covid-19, penggunaan platform digital di Indonesia semakin meningkat pada bidang perdagangan, edukasi, kesehatan, transportasi dan untuk pembayaran. Penggunaan platform oleh pelaku usaha dan masyarakat pengguna di tengah pandemi membantu ekonomi tetap berputar serta membantu percepatan transformasi ekonomi dan keuangan digital Indonesia. 

“Pandemi Covid-19 telah menciptakan perubahan perilaku masyarakat, seiring dengan pandemi yang menyebabkan pergeseran interaksi antar manusia, seperti mengurangi intensitas pertemuan fisik, tatap muka, termasuk juga meminimalkan kontak fisik dalam bertransaksi pembayaran.  Masyarakat kini banyak beralih menggunakan pembayaran digital, seperti QRIS, uang elektronik, internet banking dan mobile banking,” ujarnya. 

Ia menyebutkan, pada masa pandemi COVID-19 dan masa new normal, salah satu bentuk digitalisasi yaitu penggunaan Digital Payment yang bersifat contactless, yang sejalan dengan rekomendasi WHO, telah menjadi kebutuhan dan suatu keniscayaan.

“Bank Indonesia sebagai otoritas sistem pembayaran merespon perkembangan yang terjadi. Bank Indonesia berupaya untuk menjadikan sistem pembayaran yang efisien dan efektif dengan mengacu pada dimensi prinsip utama kebijakan sistem pembayaran yang "CeMuMuAH" yaitu cepat, mudah, murah, aman dan andal,” kata Trisno. 

Ia menyebutkan, beberapa kebijakan yang digulirkan Bank Indonesia, diantaranya, mendorong masyarakat untuk mengoptimalkan penggunaan alat pembayaran non tunai dalam bertansaksi melalui media nirsentuh sepert internet banking, mobile banking, uang elektronik server based, dan pemanfaatan kanal QRIS.

“Kebijakan Bank Indonesia mendorong implementasi QRIS dapat menjadi salah satu solusi untuk bertransaksi cara bayar aman dan sehat ditengah pandemi Covid-19,” kata Trisno.

Ia menilai, transaksi menggunakan QRIS meningkat selama masa pandemi. Secara nasional transaksi QRIS bulanan tumbuh lebih dari 35 %, mencapai 2,9 juta transaksi sebulan. 


“Adapun untuk wilayah Bali, hingga 9 Oktober 2020, total merchant QRIS tercatat sebanyak 139.538 merchant atau meningkat hingga 447% sejak awal tahun 2020, dengan dominasi pada Usaha Kecil dan Mikro (kurang lebih 57%) yang selama ini sangat terbatas aksesnya untuk menggunakan pembayaran non tunai,” kata Trisno. 


 Penyelenggaranya pun, lanjutnya,  sudah mencapai 40 penyelenggara baik bank maupun non bank sehingga lebih 4,5 juta masyarakat Bali siap melakukan pembayaran dengan menggunakan QRIS.


“Kami turut berbangga atas upaya Korem Wirastya Bali menjadi Korem Pertama di Indonesia yang mengimplementasikan digitalisasi pembayaran dalam kehidupan sehari-hari,” imbuhnya.

Kedepannya, ia  berharap inisiatif digitalisasi pembayaran yang dipelopori Korem Wirastya Bali dapat direplikasi di lingkungan militer lainnya di wilayah Bali.  (ira)
 

TAGS :

Komentar