Program Sinergi Bangkitkan Pariwisata Indonesia

Bincang Maya “Tourism Industry Post Covid 19: Survival and Revival Strategy  yang diselenggarakan Bank Indonesia, Jumat (16/10). 

 

Redaksi9.com - Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Angela Tanoesoedibjo menekankan pentingnya berbagai upaya atau program sinergi yang tengah dan akan dilaksanakan pihaknya untuk membangkitkan kembali sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Indonesia yang terdampak pandemi COVID-19.


Berbicara dalam acara “Bincang Maya Tourism Industry Post COVID-19: Survival and Revival Strategy”, Jumat (16/10), Angela mengatakan pandemi COVID-19 yang terjadi di seluruh dunia, khususnya di Indonesia membuat sektor pariwisata dan ekonomi kreatif terpuruk. Menurut data Organisasi Wisata Dunia (UNWTO), sejak Januari hingga Juni 2020 pariwisata dunia kehilangan 440 juta turis. 


“Indonesia diperkirakan kehilangan devisa sebesar 14,5-15,8 miliar dolar AS karena adanya penurunan kunjungan wisatawan mancanegara. Keterpurukan ini dikarenakan sektor pariwisata sangat mengandalkan pergerakan manusia,” kata Angela.


Oleh karena itu, Angela menuturkan pihaknya mengeluarkan berbagai kebijakan dan bantuan untuk membantu para pelaku pariwisata yang terdampak oleh pandemi ini. Di antaranya dengan membantu likuiditas usaha melalui fasilitasi relaksasi fiskal, pemanfaatan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) untuk mendukung akses permodalan, insentif listrik berupa relaksasi tarif minimum listrik, dan pemanfaatan hotel sebagai lokasi isolasi mandiri dan untuk tenaga kesehatan.


"Sementara untuk ketahanan pekerja pariwisata, kami melihat ada urgensi untuk mendistribusikan bantuan langsung karena banyak pekerja yang dirumahkan bahkan mengalami PHK," ujarnya.

Kemenparekraf sudah memfasilitasi bantuan sosial bagi pekerja pariwisata bersama Kementerian Sosial dan ini terus berjalan, fasilitasi kartu prakerja dengan Kementerian Koordinator Perekonomian, serta akses pengurangan pembayaran iuran BPJS Ketenagakerjaan, di samping itu Kemenparekraf juga mendistribusikan bantuan pangan darurat langsung ke pelaku pariwisata.


Selain itu, Angela juga menjelaskan dari segi ketahanan industri pariwisata, fokus Kemenparekraf/Baparekraf saat ini adalah untuk peningkatan kualitas dari destinasi dan persiapan industri dalam adaptasi kenormalan baru serta pascapandemi COVID-19.


“Sebagai contoh, kami memberikan pelatihan gratis melalui webinar untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas pelaku pariwisata," paparnya.
Kedua adalah revitalisasi sarana dan prasarana seperti program pembersihan destinasi pariwisata yang bertujuan untuk peningkatan kualitas dari destinasi pariwisata itu sendiri. 


"Kami juga telah menyusun protokol kesehatan bersama para stakeholders dan Kementerian Kesehatan yang sudah disahkan dalam KMK Nomor HK.01.07/Menkes/382/2020 untuk sektor pariwisata,” katanya.

Baca juga: Penerapan CHSE dan Kampanye QRIS Bantu Pemulihan Pariwisata Bali


Sebagai turunan dari KMK tersebut, Kemenparekraf/Baparekraf juga telah meluncurkan buku panduan yang diperuntukkan sebagai petunjuk yang lebih teknis untuk berbagai jenis usaha pariwisata. “Jadi buku ini mejadi acuan yang lengkap dan detail untuk usaha pariwisata secara nasional dalam penerapan protokol kesehatan,” ucap Angela.


Angela juga mengungkapkan bahwa Kemenparekraf/Baparekraf telah menyiapkan dan segera menyalurkan dana hibah pariwisata sebesar Rp3,3 triliun bagi pelaku usaha pariwisata hotel dan restoran serta pemerintah daerah. 30 persen dari dana hibah ditujukan untuk membantu pemerintah daerah dalam penanganan dampak pandemi COVID-19 di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. 
Sementara 70 persen dialokasikan untuk membantu pelaku usaha hotel dan restoran dalam menjalankan operasional kesehariannya, dan dalam menerapkan protokol kesehatan.


“Selain itu, kami juga telah mengalokasikan lebih dari 119 miliar untuk sertifikasi CHSE secara gratis dengan lembaga independen, yang ditujukan untuk meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap sektor pariwisata,” tambahnya.


Sementara, untuk membangkitkan kembali sektor pariwisata Indonesia, Angela menuturkan pihaknya akan memberdayakan wisatawan nusantara melalui program diskon pariwisata yang rencananya akan diluncurkan pada 2021 atau setelah vaksin COVID-19 rampung. 


“Diskon pariwisata ini gunanya untuk mendorong paket wisata domestik. Karena di masa pandemi ini, selain faktor kepercayaan masyarakat atas kebersihan destinasi wisata, daya beli masyarakat juga tengah menurun di masa pandemi ini,” ucap Angela.

Masih berkaitan dengan wisata domestik, Angela juga mengungkapkan rencana jangka menengah dan panjang Kemenparekraf/Baparekraf dalam peningkatan  spending_wisatawan nusantara. “Karena Indonesia merupakan negara dengan populasi besar, kita memiliki peluang di wisata domestik yang masih bisa dimaksimalkan,” jelas Angela.

Baca juga: Sandiaga Uno: Ciptakan Vaksin Sendiri, Jadilah Orang Kreatif 


Pada kesempatan serupa, Deputi Gubernur BI, Rosmaya Hadi mengungkapkan, kegiatan usaha masyarakat Indonesia sudah berangsur membaik pada kuartal ke-3 tahun 2020. “Arah perbaikan ini kami harapkan juga dapat berpengaruh terhadap bangkitnya sektor pariwisata dan ekonomi kreatif,” ungkap Rosmaya.


Rosmaya juga mengatakan pihaknya selalu berupaya menjaga kondisi makroekonomi dan sistem keuangan Tanah Air sebagai kunci pemulihan ekonomi. “Kami selalu berupaya menjaga nilai tukar rupiah dan menjaga inflasi supaya harga-harga barang tidak melonjak tinggi,” tutur Rosmaya Hadi.


Rosmaya Hadi mengatakan, pandemi Covid 19 berimbas signifikan bagi perekonomian masyarakat Bali dimana pada triwulan kedua 2020 pertumbuhan perekonomian Bali mengalami konstraksi yang cukup dalam hingga -10,98%. 


Sementara, Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace) menyebutkan,  berbagai upaya pemulihan ekonomi terus dilakukan,baik itu berupa program dan stimulus ekonomi  baik itu dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Termasuk juga, stimulus bagi pelaku UMKM, bagi para siswa SMA/ SMK, mahasiswa hingga media baik itu media cetak maupun online.  


Disamping itu, bekerjasama dengan Bank Indonesia dan bank lainnya di Bali  juga digelar  pasar gotong royong untuk  menyerap hasil hasil pertanian dan perikanan. 

Demikian pula halnya di sektor pariwisata , para pelaku industri pariwisata terus  berbenah dengan menyiapkan penerapan protokol kesehatan baik pada objek wisata, hotel maupun restaurant sehingga tumbuh kepercayaan di kalangan wisatawan akan penerapan protokol kesehatan di Bali.


“Penerapan Clean, Health, Safety and Environment  ( CHSE), penerapan pembayaran nontunai dengan aplikasi QRIS terus digencarkan sehingga wisatawan akan merasa aman dan nyaman untuk  berwisata ke Bali,” kata Cok Ace.  Demikian pula halnya,  dengan pasar domestik yang terus dipacu karena  merupakan peluang pasar yang  cukup potensial.  


Dari segi pemerintah, Cok Ace menambahkan pemerintah menyiapkan sejumlah regulasi pendukung sebagai payung hukum serta terus melakukan perbaikan sarana prasarana seperti penambahan dan peningkatan kualitas dari Rumah Sakit, ruang isolasi , kapasitas laboratorium serta terus menjajaki kerjasama dengan pelaku industri di luar negeri dan survey  trend pariwisata sebagai akibat dari Covid 19. 


“Dengan berbagai upaya yang dilakukan semua pihak baik itu pemerintah, pelaku industri pariwisata dan juga masyarakat diharapkan kepercayaan akan pariwisata Bali akan tumbuh dan pariwisata akan kembali bangkit,” kata Cok Ace. 

Sementara, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Trisno Nugroho mengatakan,  Bank Indonesia Bali aktif bersama sama dengan Pemda dan pelaku pariwisata seperti PHRI, BHA,  dalam hal memikirkan, mengusulkan dan mencari solusi atas upaya upaya memajukan parisiwata di Bali.
“Upaya itu kami lakukan mendukung program program seperti Bali Great Experience, Bali Movement. Kami juga terlibat aktif dalam setiap diskusi pariwisata untuk  memberikan pemikiran kami kepada pemerintah daerah,” ujar Trisno. 


Di masa Pandemi, BI juga turut memberikan solusi mengenai bagaimana strategi bertahan dimasa  krisis dan strategi bangkit dari keterpurukan.
 “Alhamdulillah kami dipercaya menjadi wakil ketua Tim Pemuihan ekonomi. Kami juga aktif memberikan solusi mengenai tata cara normal  baru melalui system pembayaran Nirsentuh yaitu dengan QRIS. Sejak awal tahun 2020 hingga saat ini, jumlah usaha pengguna QRIS sudah mencapai lebih dari 8000 usaha di seluruh Bali,” kata Trisno. 


 Ia menyebutkan, kampanye penggunaan QRIS juga dilakukan kepada pasar, objek wisata serta atraksi seperti di Uluwatu  dan di  Monkey Forest dan juga bekerja dengan TNI untuk penggunaan QRIS.


“Kami juga memberikan perhatian kepada sektor pertanian dan UMKM baik melalui pemberian fasilitasi pelatihan, bantuan teknis manajemen hingga menyelenggarakan pasar gotong royong,” imbuh Trisno. 


Sementara, Deputi Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Rizki Ernadi Wimanda, mengatakan, Provinsi Bali sangat tergantung pada sector terkait pariwisata dengan kontribusi sekitar 54%.  


Rizki menilai, sektor pariwisata tentu sangat tergantung pada arus kedatangan wisatawan khususnya wisatawan manca negara.   “Dengan adanya pandemic covid 19 , tidak adanya  wisatawan, akibatnya sektor pariwisata terpuruk,” ucapnya.  


Rizki menilai, kondisi perekonomian yang masih lesu ini diperkirakan belum berakhir dalam waktu dekat. Hal ini dibuktikan oleh beberapa indikator seperti rendahnya tingkat hunian hotel dari rata rata 65% tahun 2019 menjadi sekitar 3% akhir akhir ini.  Juga,  dari jumlah kedatangan penumpang Bandara Ngurah Rai dari  kondisi normal sekitar 22.000 per hari hingga kini hanya 3.000.  Ia mengatakan, survei kegiatan dunia usaha misalnya, menunjukkan adanya sediikit peningkatan di triwulan III tahun 2020. 


“Berdasarkan fakta ini, kita harus mengambil langkah langkah strategis. Ada empat strategis yang harus dilakukan,” tegas Rizki. 


Pertama, masih tetap harus memperhatikan sector pariwisata sebagai contributor terbesar pada perekonomian Bali, namun dengan protocol kesehatan yang ketat. “Kami sangat mengapresiasi pemerintah daerah yang sudah memiliki program kerja yang mencakup CHSE,” ujarnya.   

Kedua, lakukan refokusing sector pariwisata dari wisata yang bersifat mass tourism menjadi quality tourism.  Contohnya adalah wisata bahari (snorkeling dan diving), wisata alam, wisata sport atau co working space.

Ketiga, perhatian pada sector potensial lain seperti sektor pertanian sebagai sektor kedua terbesar dan sektor yang memberikan lapangan kerja terbesar di Bali. 


Ia menilai, sektor pertanian sangat heterogen dan disesuaikan dengan kondisi masing masing daerah. Misalnya kabupaten Gianyar,adalah lumbung padi dengan system pertanian subaknya, kabupaten Klungkung dengan pertanian  rumput laut, kabupaten Buleleng dengan tanaman hortikultura bawang putih, kabupaten Jembrana dengan kakao dan udangnya, Kabupaten Bangli dengan produksi kopi di perbukitan Kintamani.


Untuk strategi keempat,  saat ini  yang tepat untuk menerapkan dan memperkenalkan digitalisasi di sektor pertanian dan UMKM, untuk membantu meningkatkan produksi dan pemasarannya.


Bincang maya juga pengusaha Sandiaga Uno, Ketua Bali Tourism Board IB Partha Adnyana  serta stakeholder kepariwisataan lainnya. (ira)
 

 

TAGS :

Komentar